Pages

Instagram
Follow numunggaran on Twitter
Send me your sounds
Nurindah Munggarani | Create your badge
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Wednesday, February 23, 2011

Snow Country

Sinopsis

Lagu pertama itu menyentuh sesuatu yang kosong di dasar perutnya, dan dalam kekosongan itulah suara shamisen bergema. Shimamura terkejut--atau, lebih tepat, ia terjengkang oleh sebuah pukuulan telak. Terbenam dalam perasaaan khidmat, dibasuh oleh gelombang penyesalan, tanpa daya, ia tak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan apapun, kecuali menghanyutkan dirinya pada arus yang menyeretnya, pada keriangan yang dihadirkan oleh Komako kepadanya.

Di daerah salju yang selalu dingin itu, Shimamura bertemu Komako, seorang geisha yang pipinya sewarna angsa yang baru dibului. Tanpa ia sadari, Shimamura tahu Komako tengah jatuh cinta padanya, begitu pula sebaliknya. Keduanya berusaha menemukan pembenaran atas cinta mereka, hingga akhirnya menyerah dan menyadari kalau cinta mereka telah gagal sejak kali pertama bertemu.

What I think about this book?

Snow Country adalah sebuah master piece karya Yasunari Kawabata (aku tau dari info di novelnya, hohoho). Yasunari Kawabata adalah pengarang roman dari Jepang, peraih penghargaan Nobel sastra.

Aku pribadi kurang mengerti sama alur cerita yang disuguhkan sama novel ini, walaupun rangkaian kata-kata yang terdapat dalam novel ini membuatku berdecak kagum (pantas saja novelnya mendapat "Nobel Prize Winner").

Sebuah haiku yang panjang, indah dan bermakna di hampir setiap kata-katanya.
Itulah komentar yang kukutip dari novel Snow Country mengenai rangkaian kata-kata yang ada di novel ini.

Dalam cerita Snow Country, Shimamura jatuh cinta sama Komako (begitu kan yang tertulis di sinopsisnya?). Tapi setelah aku membaca novelnya, Shimamura juga terpesona sama seorang gadis yang bernama Yoko (nah lho?).

Kalo novel ini memang didedikasikan untuk penikmat novel roman, menurutku cerita cintanya kurang gereget. Selain itu, walau aku sangat mengagumi rangkaian kata-kata yang disuguhkan Kawabata, tapi kok rasanya alur ceritanya bertele-tele ya?

Ada juga scene yang terkesan berulang-ulang, alias sama aja kayak sebelumnya. Selain itu ending-nya juga terkesan ngegantung. Padahal aku belum mengerti benar kisah cinta Shimamura dan Komako. Atau karena aku nggak selera sama sastra ya? Nggak tau juga sih :-/.  


\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆

No comments: