Putih Hitam
Bagai piano yang rapuh.
Ketika tuts menghilang,
takkan tercipta melodi sempurna,
yang ada hanyalah kekacauan.
Bagai pion-pion catur.
Membuat pola serangan,
saling menjatuhkan,
menyisakan yang bertahan.
Terbungkus topeng kesatuan.
Paduan putih dan hitam,
dunia yang berbeda,
batas antara kesunyian.
***
Seharusnya Aku Tau
Saat pertama kali melihatnya,
melihat tingkahnya,
melihat gelagatnya,
seharusnya aku tau.
Saat pertama kali mendengarnya,
mendengar suaranya,
mendengar bisikannya,
seharusnya aku tau.
Saat pertama kali menyentuhnya,
menyentuh tangannya,
menyentuh jemarinya,
seharusnya aku tau.
Ia hanyalah seberkas sinar,
menerangi dengan harapan,
tak memilih siapa yang terpancar,
seharusnya aku tau.
***
Jangan Rasai
Rasanya manis, jangan dustai.
Rasanya pahit, jangan bohongi.
Rasanya asyik, jangan sakiti.
Rasanya sepi, jangan ingkari.
Rasanya hati, jangan rasai.
***
Ukirmu
Tautkan jari, satukan hati.
Eratkan taki, merancang kasih.
Hari ini, kamu mengukir.
Aku meringis, aku terkikis.
***
Kisah Dalam Putih
Aku tak bisa bersua,
aku hanya membisu.
Aku tak bisa berkata,
aku hanya terpekur.
Pada lembar putih kutorehkan,
kisah dalam imajiku.
Tak merintih dan meronta,
hanya diam dan membatu.
\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆



No comments:
Post a Comment