Ku akui, kaulah yang terhebat.
Kau buat aku mendusta,
kau bubuhi aku derita,
lalu kau cumbu aku dengan nista.
Engkau... Malaikat Nestapa.
Ku akui, kaulah yang terhebat.
Di antara mawar-mawar hitam,
kau tampak mempesona,
dengan merah darah yang pekat.
Engkau... Sang Pencuri Jiwa.
Sungguh di luar nalar,
bayangmu habis termakan cahaya,
namun hadirmu tak terkikis zaman.
Memang, engkau pendar yang liar.
Memang, engkaulah yang terhebat.
\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆



No comments:
Post a Comment