Ditulis 19 Februari 2016. Keluh kesah kesekian kalinya yang ditulis dan mendem di notes HP. Menemukan tulisan ini seperti menemukan harta karun, setelah satu tahun berlalu, membaca lagi tulisan ini menjadi reminder untuk kembali merenungkan kejadian-kejadian dalam hidup yang lalu, dan betapa konyolnya aku saat itu.
------------------------------------------------------------------
Hai blog, kamu tau? Akhir-akhir ini hidupku kacau sekali, tapi syukurlah ada orang-orang yang mendampingiku, menghiburku, dan mengkhawatirkanku. Rasanya sekedar ucapan terima kasih tak sanggup membalas kebaikan mereka.
Akhir-akhir ini aku banyak berpikir, tentang berbagai hal... Tentang kehidupan sosial juga akademik. Aku akui akhir-akhir ini sepertinya aku menjadi sosok yang payah. Meskipun aku tak minta untuk dipahami, tetap saja aku sedih.
Oh iya, blog, akhir-akhir ini aku punya hobi baru. Ah tapi sebenarnya ini hobi lama yang muncul kembali. Aku lagi suka baca komik, ini benar-benar sangat menghibur. Awalnya aku membaca komik jenis horror dan action. Itu genre favoritku. Karena kehabisan bahan bacaan dan atas beberapa rekomendasi, aku mencoba membaca komik jenis romance. Lucu bukan?
Entah kapan terakhir kalinya aku benar-benar membaca literatur dengan nuansa percintaan, rasanya sudah lama sekali. Setelah aku cek, ternyata aku pernah mereview beberapa novel romance di blog ini. Sejujurnya aku tak ingat pernah menulis seperti itu. Apa ya yang menyebabkan aku jadi tidak melirik lagi sesuatu yang berbau romance? Ah sudahlah, bukan itu yang harus dipikirkan...
Aku agak terkejut dengan diri sendiri, begitu membaca komik dengan genre romance, aku malah terbawa suasana. Entah mengapa, aku menikmatinya. Bagaimana yah... Rasanya aku dibawa untuk mencoba memahami dengan perasaan tiap karakter yang ada di cerita. Aku menikmati setiap moment-nya, tapi kenapa ya... Di dunia nyata, sangat sulit untuk memahami apa yang dirasakan orang lain?
Di dunia nyata, tindakan setiap orang itu susah diprediksi. Ada yang mengatakan, bahwa perasaan tiap orang itu gampang berubah. Benarkah? Jika demikian, apa prinsip juga gampang berubah? Aku tidak mengerti. Bukankah seharusnya perasaan yang kuat itu tidak gampang berubah? Lalu, apa yang menyebabkan manusia gampang berubah? Ketidakpuasankah jawabannya? Aku bingung.
Jika manusia selalu merasa tidak puas, lalu bagaimana cara untuk membuat manusia puas? Mencari-cari kepuasan... Apa dengan satu hal saja, manusia tidak pernah merasa cukup? Oh, mungkin itu akibat dari kurang bersyukur, aku mengerti sekarang.
Manusia itu tidak ada yang sempurna kan? Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, hidup bersama-sama untuk saling melengkapi. Iya, untuk melengkapi, menutupi kekurangan masing-masing... Tapi bukan berarti kekurangan tersebut dapat ditutup dengan sempurna kan? Aku pikir, sampai kapanpun, tidak akan ada pasangan yang benar-benar saling melengkapi dengan sempurna. Sayangnya, tidak semua orang berpikiran seperti itu. Jika orang-orang terus mencari sosok yang benar-benar menyempurnakan mereka, lantas sosok seperti apa yang harus aku cari?
Sejak dulu, aku selalu berpikir, sedingin apa hati yang aku miliki? Kok sampai ada laki-laki yang menjuluki aku "Ratu Salju" dan "Cewek Jutek"? Memangnya aku secuek itu? Apa aku benar-benar terlihat tidak peduli? Apa caraku mencurahkan perhatian kurang begitu diterima? Apa dengan menyayangi saja tidak cukup? Mungkin itu karena orang-orang selalu ingin "lebih".
Lalu, tiba-tiba saja aku merasa iri dengan cerita di komik-komik romance yang baru-baru ini aku baca. Selalu ada tokoh yang memperjuangkan orang yang disukainya bagaimanapun dinginnya orang tersebut, mati-matian berusaha hanya untuk dilirik oleh orang yang disukainya meski dicampakkan berulang kali, Ia tidak menyerah...
Bagaimana yah rasanya diperjuangkan dengan sungguh-sungguh? Apa sangat menyenangkan? Pasti menyenangkan, aku yakin. Diperjuangkan dengan sekedarnya saja sudah menyenangkan, apalagi diperjuangkan dengan sungguh-sungguh bukan?
Hai, blog, apa aku bukan sosok yang patut diperjuangkan? Apa aku terlalu menyusahkan sehingga orang-orang yang memperjuangkan aku selalu menyerah? Apa aku terlalu tinggi hati untuk menghargai orang lain? Atau apakah orang-orang tidak bisa menerima keberadaanku yang lebih banyak diam? Bagaimana ini? Pantas saja tidak ada yang betah untuk lama-lama berada di sekitarku.
Aku malu... Malu dengan diri sendiri. Padahal aku selalu berusaha untuk berubah. Sejak dulu pun banyak yang bilang aku jutek, kurang senyum, dingin... Apalagi statement itu diperkuat ketika ada yang menyebutku "Ratu Salju" dan "Cewek Jutek", mungkin akibat aku yang mencampakkannya dengan kurang ajar atau entah karena apa... Yang jelas, setiap omongan orang itu jadi pukulan telak buat aku.
Aku ini dasarnya introvert, makanya aku tidak begitu pandai bergaul dengan orang lain. Seiring waktu, bersamaan dengan gunjingan-gunjingan yang tidak mengenakkan itu, aku berubah. Lihat aku sekarang, lebih terbuka, lebih ceria, lebih sering tersenyum... Untuk mencapai sosok yang seperti ini saja butuh waktu bertahun-tahun, meski tak sepenuhnya aku meninggalkan sifatku yang sesungguhnya. Lalu, usaha bertahun-tahun ini seperti dihancurkan begitu saja.
Ada yang bilang, aku ini kurang peka dan kurang perhatian. Dalam hal apa? Aku tidak mengerti, mengapa manusia selalu mengritisi orang seakan tidak pernah puas dengan sosok yang ada di hadapannya? Baiklah... Mungkin ini salah satu rayuan halus agar aku berubah, tapi sesungguhnya apa yang menjadi standar penilaian terhadap kepribadian seseorang?
Orang-orang yang tak mengenal aku sepenuhnya, takkan pernah paham dengan caraku, takkan pernah paham dengan arti setiap diamku, takkan pernah paham dengan setiap usahaku, mereka takkan pernah paham dengan aku.
Aku ini sepertinya tipe orang yang terlambat menyadari sesuatu... Ketika aku sadar, mungkin orang-orang sudah terlanjur lelah untuk menungguku dan sudah mencapai batasnya untuk mentoleransi sikapku. Padahal mereka tidak tau, ada banyak keributan dalam benakku yang seolah-olah tengah berdiskusi tentang bagaimana aku bisa menjadi lebih baik, bagaimana aku bisa lebih memahami orang lain... Tapi usaha yang tak pernah terlihat mungkin tak begitu dihargai. Tuhan, rasanya aku lelah menghadapi makhluk bernama manusia ini.
Rasanya, aku mulai kehilangan rasa percaya diri dan rasa percaya dengan orang lain.
\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆



No comments:
Post a Comment