Aku menelusuri jejak langkahnya,
mencarinya dalam sisa perpisahan.
Terlambat langkahku menyusulnya,
di tepian jurang ia menghilang.
Penyesalan itu datang terlambat,
banyak kenangan tersiasiakan.
Seiring dengan derai air mata,
kupejamkan mata perlahan.
Andaikan ia tak tinggalkan tanda tanya,
dan frase dalam setiap kerlingan matanya.
Kutahu kulakukan hal yang sama,
yang membuat gusar tak kunjung hilang.
Ambigulah sikap kita wahai pujangga,
meninggalkan misteri duka cita.
Dalam sela-sela pahit yang terasa,
aku terperangkap dalam penjaranya.
\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆



No comments:
Post a Comment