Pages

Instagram
Follow numunggaran on Twitter
Send me your sounds
Nurindah Munggarani | Create your badge
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Sunday, June 19, 2011

Till We Meet Again

Udah lama nggak nge-review-an. Kali ini pengen nge-review novel Till We Meet Again. Aku beli ini novel hari Minggu kemarin, sehari sebelum UKK (berarti tanggal 12 Juni). Tadinya ke gramedia pengen beli novel yang recomended-nya Freya, Waktu Aku Sama Mika, tapi nggak ada, mungkin karena itu udah masuk novel lama ya? Huhu... sedih... :'( . Padahal itu novel katanya bagus banget.

Karena udah tanggung dateng ke gramedia, jadinya ya cuci mata dulu bentar (apa nongkrong di toko buku selama 2 jam termasuk sebentar?). Dan coba tebak sodara-sodara? Saya nyesel-sel-sel ke gramedia, soalnya banyak banget novel-novel baru yang kayaknya seru-seru tapi aku nggak bisa beli karena budget tipis T_T.

Tapi akhirnya novel Till We Meet Again membuatku melirik juga, menggoda gitu loh, hehehe... Yang membuatku tertarik sama novel Till We Meet Again itu cover-nya, hehehe... Padahal kan udah jelas-jelas ada pepatah "don't judge a book by it's cover" tapi tetep aja kesan pertama melirik sebuah novel itu pasti cover-nya.

Till We Meet Again
Hal kedua yang membuatku tertarik pada novelnya adalah sinopsisnya, sampai senyum-senyum sendiri bacanya *blushing*.
"Aku bilang, senyumnya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu."
Itulah potongan dari sinopsis yang bikin aku kelengeran sendiri. Maaf ye kalo ada yang terganggu dengan huruf-huruf yang sengaja digede-gedein :-p.

Karena dua kesan itulah aku dengan berat hati melepaskan uangku untuk beli novel karya Yoana Dianika itu << bagian yang terlalu berlebihan.

Ceritanya...
Elena kecil kehilangan kalung berliontin biola peninggalan mamanya. Udah dicari-cari tapi nggak ketemu (kalungnya) :-O *kasian*. Di tengah kesedihan itu, datanglah seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Anak laki-laki berambut pirang dan bermata kelabu itu mencoba menghibur Elena dan memberikan kaiserschmarrn buatannya pada Elena.

Elena pun meninggalkan Wina dan berpisah dengan anak laki-laki itu tanpa menemukan kalung berharganya, dan tanpa mengetahui nama anak laki-laki yang telah menghiburnya. Sebastian--Ayah Elena--memang memutuskan untuk mengubur kenangannya bersama Esther--Mama Elena--di Wina dan memakamkan Esther di Indonesia, tempat kelahiran Sebastian.

Delapan tahun kemudian, Elena memutuskan untuk belajar di Wina. Darah seni dari mendiang mamanya mengalir dalam tubuhnya. Elena ingin mewujudkan impian mamanya, yaitu bermain biola di Wiener Staatsoper, sebuah gedung opera di Wina yang terkenal berhasil mencetak komponis-komponis andal dunia. Tujuan Elena bukan itu saja, dengan berada di Wina, ia bisa mencari Pangeran Kaiserschmarrn-nya. 
Tertarik? Hehehe...

Pendeskripsian tempatnya aku acungin jempol deh. Jadi pengen ke Wina, secara aku suka yang klasik-klasik :">. Baca novelnya membuat seolah-olah aku berada di Wina. Tapi untuk pendeskripsian perasaan tokoh-tokoh yang terlibat di novelnya menurutku kurang gereget ya. Endingnya juga gampang ketebak, bahkan dugaanku tentang Pangeran Kaiserschmarrn-nya yang 'menyamar' juga benar. Selain itu, aku kurang merasakan feel permainan biola dari Elena. Misalnya ya, untuk menghasilkan permainan musik yang bagus, harus dituturkan bagaimana perasaan Elena saat itu, untuk siapa musik itu dimainkan, buat aku hal-hal kecil seperti itu ngaruh banget ke permainan musiknya, secara biola itu kan alat musik yang sangat sensitif. But overall, konsepnya bagus lah. Konflik ceritanya lumayan, cuma kurang pendalaman mungkin. Yah... apa karena aku menyukai konflik yang berat-berat ya -_-.


\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆

1 comment:

Haryono said...

hehe bgus...:D
Kunjungi jg ya Blog saya http://drafharyono.blogspot.com/2013/09/karakteristik-islam.html ...