engkau bermuara kepadaku.
Dengan sabar aku merengkuhmu,
agar amarah dirimu luluh.
Harmoni kita pun bermula,
engkau mulai mainkan nada-nada.
Aku coba dengarkan, rasakan,
yang kutemukan hanyalah hampa.
Tiap-tiap kata yang terucap,
adalah keraguan yang terungkap.
Tiap-tiap kata yang tercurah,
adalah ambigu dalam nyatanya.
Bagaimana aku bisa mencintaimu?
Saat aku tak bisa berikanmu lebih.
Bagaimana aku bisa mencintaimu?
Saat kamu tak bisa berikanku lebih.
Aku tak bisa bersua lagi,
sampai hati ini benar yakin.
Kuberikan untaian kata simpati,
untukmu sebagai pengganti janji.
9 Februari 2012
\(o ̄∇ ̄o) RIN ☆



No comments:
Post a Comment