Beberapa waktu ini banyak sekali yang berkecamuk dalam pikiran. Kata Mbah Google sih, ini semacam gejala Quarter Life of Crisis. Itu loh, fase yang dialami dewasa muda awal 20an, dimana kamu mulai bertanya-tanya tentang hidup kamu. Entah tentang social life, pekerjaan, dari hal sepele, sampai hal-hal krusial. Penyebabnya? Tekanan.
You know-lah, setiap kelulusan kata-kata klasik ini sering muncul --> "welcome to the jungle". Di usia ini, yang dulunya terbiasa dengan kehidupan kampus, ditantang untuk mandiri. Di usia ini, yang tadinya berangkat kampus untuk haha-hihi, hangout bareng temen, mulai terbatasi waktunya dengan pekerjaan yang bejibun, dan nggak jarang untuk lembur. Yaa alur kebanyakannya sih begitu, kalo ga gitu ya maaf aja, jangan protes. Jalan hidup orang kan beda-beda.
Aku juga akhir-akhir ini banyak sekali yang dipikirkan. Kayak apa sih yang mau aku capai dalam 5 tahun ini? Tentang melanjutkan kuliah, yang ujung-ujungnya bikin aku mikir "sebenernya aku kuliah lagi tuh keinginan sendiri atau tuntutan? Atau ternyata keinginan itu cuma ego yang ingin melampaui 'orang itu' biar aku nggak merasa direndahkan?". Belum lagi persoalan karir yang dari kapan lalu memicu perang dingin di rumah. Ujung-ujungnya rumah nggak bisa jadi tempat aku merasa benar-benar bisa tinggal. Rumah malah jadi tempat pengasingan bagi yang tinggal di dalamnya. Padahal ya aku cuma ingin ngelakuin apa yang aku suka. Salah?
*
Di usia segini tuh yah, kalo udah ketemu sama temen yang dibahasnya bukan masalah recehan macam cinta-cintaan yang bikin geli, tapi topiknya ternyata malah lebih berat lagi.
Konflik yang dialami usia segini tuh biasanya ngga jauh-jauh dari konflik keluarga. Kenapa? Soalnya suka beda pandangan aja gitu sama orang tua, paling simpel, tentang kerjaan misalnya. Fyi milih kerjaan nggak bisa macam milih universitas yang asal PTN dan punya nama. Sulit loh nyari kerja. Kalo kamu lama nganggur gara-gara terlalu perhitungan, baru kerasa.
Terus dilanjutkan dengan konflik batin. Akan ada masa di mana muncul rasa bersalah ke orang tua karena membebani mereka terus-menerus dengan kondisi kamu yang belum dapet kerja. Tanpa support dari lingkungan yang sehat, pasti bakal nge-underestimate diri sendiri, merasa diri useless.
Atau kalo posisinya udah bekerja misalnya, eh tiba-tiba ada pikiran, "Memangnya pekerjaan ini udah sesuai dengan yang aku mau belum sih? Eh kayaknya kalo gaji di anu lebih besar dan lebih mencukupi."
Hm. Sungguh makhluk yang tidak pandai bersyukur.
Tapi ya, namanya juga hidup, pasti ada turning point-nya. Masa iya sih bakal terpuruk terus? Ya nggak akan ada perubahan lah. Ini loh kenapa usia segini disebut dewasa muda, karena di usia ini kita tuh bukan cuma dituntut pandai berpikir, tapi juga dituntut untuk membuat keputusan dan menentukan pilihan.
Iya gitu, ini nulis bukan buat motivasi orang lain kok, ini buat motivasi diri sendiri juga. Berbulan-bulan loh, galau aja mulu kerjaan Si Nurindah, nggak kelar-kelar. Dan akhirnya sampai juga sih aku di titik di mana aku harus keluar dari zona nyaman. Ini, titik di mana akhirnya aku berani memilih jalan hidup mana yang aku ambil.



No comments:
Post a Comment