Mungkin malam memang waktu yang tepat bagi berbagai macam pikiran absurd mengambil alih alam sadar kita. Bagiku, saat seperti ini merupakan quality time untuk merenung. Btw, aku sudah mendekati akhir tenggat waktu untuk bersantai-santai seperti ini. Ke depannya, akan banyak rintangan baru yang membuka pintu pengalaman lebih banyak dari yang aku rasakan sekarang. Semacam panggilan bagi jiwa-jiwa muda untuk mengeksplorasi dunia. Setdah, rasa-rasa sudah tua aku ngetik macam ini.
Aku jadi teringat, dipikir-pikir aku ini dulu orang yang sangat ambisius. Entah sejak kapan, rasa untuk mencapai sesuatu yang bagi orang-orang adalah prestasi ataupun hal-hal yang sekedar berkaitan dengan peningkatan gengsi membuatku jengah. Capek aja. Mungkin awal aku seperti ini karena merasa usaha yang aku lakukan tidak dihargai oleh orang yang aku harapkan, lalu aku berasumsi bahwa yang aku lakukan adalah kesia-siaan.
Rasanya, kalau bisa, aku ingin menjadi Rindah yang dulu. Rindah yang naif tapi optimis. Iya, masa remaja memang masa-masa penuh kebodohan. Namun karena bodoh itulah, kadang mengambil keputusan yang beresiko tinggi pun ngerasa enteng aja, tanpa beban. Ketika rencana tidak berjalan baik pun, masih bisa haha-hihi sambil poker face. Dipikir-pikir, bisa ya aku yang perfeksionis setenang itu?
Beranjak dewasa, semakin banyak tau justru seakan-akan membuat ruang gerak semakin terbatas. Entah mengapa rasa sangat hati-hati itu muncul, lalu ketakutan akan ini-itu datang silih berganti. Mungkin karena apa yang kita lakukan di usia ini sangat menentukan langkah kita ke depannya, lalu resiko pilihan yang kita ambil pun sepenuhnya kita yang tanggung. Tidak ada bimbingan atau "tutorial menentukan pilihan", kita benar-benar 'berpijak pada kaki sendiri'.
Masih ingat nggak sih, dulu waktu masih kecil kalau ditanya "cita-citanya apa?" Rata-rata, secara umum pasti menjawab mau jadi dokter, guru, polisi, atau kalau aku dulu ngejawabnya "pingin jadi arsitek!" Karena pengaruh bapak yang aslinya anak sipil ngeudtz. Mudah betul kita menjawab tanpa mikir panjang, meskipun kita nggak tau apa yang kita bicarakan. Nah kalau udah segede ini ditanya: cita-cita, ke depannya mau kayak gimana, target selama 5 tahun apa, mikirnya bisa lebih dari 7 hari 7 malam. Okay itu lebay. Tapi serius deh, memang memikirkan masa depan bisa sebercanda itu?
Namanya juga dewasa muda, masih mentah, belum ditempa. Kalau ga bisa challenge diri sendiri sudah bisa dipastikan akan menjadi 'olok-olok' masyarakat. Kagak ada hidup aman, tentram, damai. Kamu kalo nggak kuat dengan gunjingan tetangga yang kalau ngomong nggak pakai filter, udahlah... terpuruk kamu ke titik paling rendah. Makanya loh di sini tingkat kematangan kamu diuji (udah kayak masak aja), ada saatnya kamu bakal jatuh terus bangun, kemudian dijatuhkan lagi, harus bangun lagi. Orang-orang yang mampu bangkit dari keterpurukanlah yang telah sukses menantang dirinya sendiri untuk berkembang.
Memang yang namanya hidup, sesekali kita harus meninggalkan zona nyaman untuk merasakan gagal, kemudian bangkit untuk menghargai segala usaha kita dan berjuang kembali. Namanya manusia butuh teguran dulu, baru sadar. Pun ketika ada yang memilih untuk tetap berada di zona nyamannya, ya itu pilihan masing-masing. Kalau aku, menolak untuk stuck di titik saat ini.
Jadi, sudah siap meninggalkan zona nyaman mu Rin?



No comments:
Post a Comment